FGD Peningkatan Daya Saing Industri Makanan Olahan Indonesia di Eropa

Mei 06, 2019

Pada tanggal 25 April 2019 Direktorat Eropa II telah menyelenggarakan FGD Peningkatan Daya Saing Industri Makanan Olahan Indonesia di Eropa di Hotel Aryaduta, Bandung. Acara dibuka oleh Direktur Eropa II Hendra Halim dan dimoderatori Associate Professor School of Business and Management ITB Dr. Sylviana Maya Damayanti. Sebagai narasumber dihadiri oleh Kepala Subdit Pengembangan Pasar Asia Pasifik dan Afrika Kemendag; Kepala Subdit Akses Sumber Daya Industri Kemenperin; Pgs. Kepala Divisi Indonesia Eximbank Institute; Ketua Komite Pembinaan & Pengembangan UKM GAPMMI; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat; dan Ketua Komite Tetap Hubungan Luar Negeri, Perdagangan, Promosi, & Investasi KADIN Jawa Barat. Turut hadir sebagai peserta wakil dari Badan POM, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan, serta kalangan pelaku usaha.

Pemilihan kota Bandung tempat pelaksanaan acara dikarenakan Bandung sebagai salah satu pusat industri kreatif makanan olahan Indonesia. Keberhasilan diplomasi ekonomi harus melibatkan kalangan pelaku usaha.

Menurut catatan Kemendag, total perdagangan Makanan Olahan Indonesia ke Eropa pada tahun 2018 sebesar USD 981,9 juta (surplus USD 277,5 juta). Hingga saat ini, 5 (lima) produk ekspor makanan olahan utama Indonesia ke Eropa antara lain Prep or pres fish (HS 1604), Crustacean (HS 1605), Tobacco (HS 2401), Buah-buahan (HS 2008), dan Kelapa (HS 0801). Sedangkan 3 (tiga) negara tujuan utama ekspor makanan olahan Indonesia adalah Belanda (USD 142,6 juta), Jerman (USD 98,9 juta), dan UK (USD 78,2 juta). Beberapa negara di Eropa telah diidentifikasi sebagai pasar potensial bagi produk Makanan Olahan Indonesia antara lain: Spanyol (makanan ringan), Jerman (teh), Denmark (seafood beku), dan Uni Eropa (kopi).

Indonesia menjadi country partner pameran Hannover Messe 2020 di Jerman dan akan membawa tema Making Indonesia 4.0. Beberapa hal yang telah dilakukan Kemenperin terkait persiapan acara tersebut antara lain melakukan roadshow sosialisasi keikutsertaan Indonesia kepada pihak-pihak terkait serta pemberian pelatihan kesiapan ekspor pelaku industri. Kemenperin juga telah menyusun peta jalan menuju Makanan dan Minuman 4.0 dengan target implementasi tahun 2021, 2025, dan 2030. Untuk target 2021, Kemenperin berinisiatif mengurangi ketergantungan terhadap impor produk pertanian  dan bahan baku  manufaktur dengan cara peningkatan kapasitas khususnya perbaikan sektor hulu pertanian, serta familiarisasi sektor pertanian dan makanan/minuman  dengan teknologi Industri 4.0.

Menurut Kepala Disperindag Jawa Barat, Eropa belum menjadi tujuan utama ekspor produk makanan dan minuman Jawa Barat namun memiliki potensial apabila dikembangkan. Beberapa produk makanan olahan yang telah disiapkan untuk pasar internasional, khususnya Uni Eropa antara lain Fruits Leather (Manggo Day), Bandrek (Bandrek Cailate), Bawang Goreng Ling, dan Makanan Tradisional & Snack Olahan Coklat (Brinka Group).

Read 1097 times